Ini Penyebab Game Lokal Kalah Bersaing

Written By I Putu Jayantara on Minggu, 30 September 2012 | 14.43

Pengembang game masih lebih memilih game berlisensi. Mengapa?

Konferensi game 'PAX East 2012'
Konferensi game 'PAX East 2012' (REUTERS/ Jessica Rinaldi)
 
 
VIVAnews - Tren game yang menjamur di Indonesia masih didominasi oleh game yang berbasis sharing. Meski potensi game mobile dapat berkembang, kecenderungan para penggila game masih memilih game di PC dengan pertimbangan tantangan yang berbeda.

"Potensinya sih semua sama. Dari jumlah pemain game di Indonesia sih modelnya masih yang berbasis sharing, gamers Indonesia ingin main sharing bareng-bareng. Kalau mobile gaming masih belum sama, tidak bisa sharing, hanya beda target saja," kata Conrad Jiwandono, Business Development Manager Qeon Interactive, pengembang game lokal di Plaza Indonesia, Jakarta, Rabu 19 September 2012.

Untuk mengembangkan para pengembang game lokal, Qeon Interactive (Q Interactive) memiliki divisi lain yaitu Q Play, yang membawahi para pengembang game. Ia mengatakan, kualitas grafis game besutan pengembang lokal sudah diakui di negara lain.

"Kalau grafis, kita itu sudah jago. Cuma yang masih susah adalah programming-nya," katanya.

Untuk mengembangkan komunitas game online, Q Play siap merencanakan pembuatan game lokal bersama pengembang lokal pada tahun mendatang.

"Q Play sedang dalam tahap perencanaan, pengembangan internal. Ada rencana ekspos mereka (pengembang game lokal). Kami kontak mereka, bisa juga kami presentasi ke mereka bahwa kami punya wadah bagi mereka," ujarnya.

Jika rencana menggandeng pengembang game lokal sukses, pihaknya akan membuat 2 sampai 3 game lokal setiap tahun. Kondisi para pengembang game lokal, Conrad melanjutkan, lebih menyuplai game untuk mobile ke pusat aplikasi seperti iOS atau pun Android. "Terus nama mereka kemudian bisa muncul," ucapnya.

Ia juga memaparkan mengapa kecenderungan para lembaga pengembang game, seperti Qeon Interactive lebih memilih melisensi game buatan luar negeri, dibandingkan mengembangkan game dari buatan anak negeri.

"Developer buat game sendiri itu bagusnya bisa mengaspirasikan keinginan mereka. Tapi, apakah masyarakat akan menerima?," ujarnya.

Sementara itu, game berlisensi muncul melalui riset terlebih dahulu, tren apa yang sedang berkembang. "Market bisa kami prediksi lewat tren game-game di warnet," lanjutnya.

Conrad menambahkan, tahapan yang susah dalam mengembangkan game yaitu soal game play. Dengan melihat game play-nya, orang sudah mengetahui apa yang akan dilakukan dalam game tertentu. "Ini yang susah, tapi kami terus riset, riset, dan riset," tegasnya.

Ia melanjutkan, Q Interactive sebenarnya sudah berpikir untuk membuat game sendiri, namun perlu persiapan yang panjang. Q Interactive sudah menjalin komunikasi dengan 10 komunitas game yang aktif membuat game untuk iOS atau di web. "Harus dipersiapkan dulu, timing-nya," katanya.

Guna kampanye game online, Q Interactive menggelar turnamen game asal Korea Selatan, Shadow Company. (art)

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan berikan komentar. Tetapi dilarang berkomentar menghina atau-pun spam, Terima kasih.