Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Tari Pendet – Seni Tari dari Bali – Sejarah Tari Pendet

Written By I Putu Jayantara on Kamis, 08 November 2012 | 13.08


Tari Pendet - Seni Tari dari Bali - Sejarah Tari Pendet
Pulau Bali adalah salah satu tempat wisata andalan Indonesia yang terkenal ke seluruh penjuru dunia karena keindahan alam dan budayanya. Hampir setiap hari ada rombongan Turis lokal/ domestik maupun asing yang berbondong-bondong datang ke Pulau Dewasa untuk berwisata, jumlah wisatawan akan meningkat di saat musim liburan. Salah satu prosesi penyambutan tamu yang sering dipentaskan adalah Tari Pendet.

Sejarah / asal usul Tari Pendet

Tari Pendet diciptakan oleh I Wayan Rindi (1967), maestro tari dari Bali yang dikenal luas sebagai penggubah tari pendet sakral yang bisa di pentaskan di pura setiap upacara keagamaan. Pada awal penciptaan, tarian ini merupakan tari pemujaan yang banyak dipentaskan di Pura, tempat ibadah umat Hindu di Bali, Indonesia. Gerak Tari ini simbol penyambutan atas turunnya dewata ke alam dunia. Tetapi, seiring perkembangan zaman, para seniman Bali mengubah Tari Pendet menjadi “tarian ucapan selamat datang”, meski tetap mengandung anasir yang sakral-religius. 
Diyakini bahwa Tari Pendet merupakan pernyataan dari sebuah persembahan dalam bentuk tarian upacara. Tidak seperti halnya tarian-tarian pertunjukkan yang memerlukan pelatihan intensif, Pendet dapat ditarikan oleh semua orang, pemangkus pria dan wanita, dewasa maupun gadis. Tarian ini diajarkan sekedar dengan mengikuti gerakan dan jarang dilakukan di banjar-banjar. Para gadis muda mengikuti gerakan dari para wanita yang lebih senior yang mengerti tanggung jawab mereka dalam memberikan contoh yang baik.

Tari Pendet - Seni Tari dari Bali - Sejarah Tari Pendet

Gerakan Tari Pendet

Tari putri ini memiliki pola gerak yang lebih dinamis daripada Tari Rejang yang dibawakan secara berkelompok atau berpasangan. Biasanya ditampilkan setelah Tari Rejang di halaman pura dan biasanya menghadap ke arah suci (pelinggih) dengan mengenakan pakaian upacara dan masing-masing penari membawa sangku, kendi, cawan, dan perlengkapan sesajen lainnya.

Kontroversi Tari Pendet

Tari Pendet pernah menjadi sorotan dan heboh saat tampil di program televisi Enigmatic Malaysia Discovery Channel.
Tindakan Malaysia yang mengklaim tari pendet sebagai bagian dari budayanya amat disesalkan keluarga Wayan Rindi. Pada masa hidupnya, Wayan Rindi memang tak berfikir untuk mendaftarkan temuannya agar tak ditiru negara lain. Selain belum ada lembaga hak cipta, tari Bali selama ini tidak pernah di patenkan karena kandungan nilai spiritualnya yang luas dan tidak bisa dimonopoli sebagai ciptaan manusia atau bangsa tertentu.
Namun pemerintah Malaysia menyatakan kalau mereka tidak bertanggung jawab atas iklan tersebut karena dibuat oleh Discovery Channel Singapura hingga akhirnya Discovery TV melayangkan surat permohonan maaf kepada kedua negara, dan menyatakan bahwa jaringan televisi itu bertanggung jawab penuh atas penayangan iklan program tersebut.
Meskipun demikian, insiden penayangan pendet dalam program televisi mengenai Malaysia ini sempat memicu sentimen Anti-Malaysia di Indonesia.
Itulah penjelasan mengenai seni tari pendet dari bali, sejarah, dan gerakan tari pendet. Semoga dapat menambah pengetahuan kamu mengenai seni tari di Indonesia.
referensi : republika.co.id, magistre-sejarah.blogspot.com, id.wikipedia.org
13.08 | 0 komentar | Read More

Menelusuri Sejarah Batik Nusantara

Written By I Putu Jayantara on Selasa, 02 Oktober 2012 | 14.57

Ahli Belanda menyebut batik sebagai kebudayaan asli Indonesia.

World Batik Summit 2011
World Batik Summit 2011 (VIVAnews/Muhamad Solihin)
VIVAnews - Ada yang berbeda dengan gaya berpakaian sejumlah rekan kerja Anda hari ini? Jika diperhatikan banyak yang mengenakan pakaian batik, sebab hari ini, 2 Oktober, diperingati sebagai Hari Batik Nasional.

Tanggal 2 Oktober dijadikan Hari Batik Nasional sejak UNESCO menetapkan batik sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity. Dengan penetapan ini, Indonesia diminta untuk melestarikan motif hias khas yang ada sejak zaman dulu kala.

Tapi, seperti apa sejarah batik di Nusantara?

Menilik etimologinya, kata batik berasal dari kata "amba" dan "titik", yang berarti "menulis titik". Ada juga yang berpendapat bahwa batik secara hipotesis berasal dari akar kata Proto-Austronesian, yaitu "beCik" yang berarti "melakukan tato". Kata ini sendiri kemudian tercatat pertama kali secara resmi dalam bahasa Inggris di Encyclopedia Britannica pada 1880, dengan tulisan "battik".

Secara umum, seni pewarnaan kain dengan teknik perintang menggunakan zat seperti lilin dikenal bahkan sejak periode abad 4 SM di Mesir. Saat itu ditemukan kain pembungkus mumi yang juga dilapisi malam atau zat lilin yang membentuk pola teratur. Di Asia, teknik ini juga ditemukan di Dinasti Tang Cina (618-907 M), India, dan Jepang di periode Nara (645-794 M).

Sedangkan di Indonesia, meskipun kata batik kuat diduga berasal dari bahasa Jawa, tapi G.P. Rouffaer dan N.J. Krom berpendapat bahwa teknik batik diperkenalkan dari India atau Srilanka. Seni batik ini dibawa oleh masyarakat Kalingga-Koromandel dari India ke Jawa pada 4 Masehi, melalui jalur perdagangan. Rouffaer pun menyebut penggunaan alat canting untuk membentuk pola gringsing sejak abad ke-12 di Kediri, Jawa Timur.

Tapi pendapat ini kemudian dibantah oleh arkeolog J.L.A. Brandes yang menyebut batik sudah dikenal oleh masyarakat Nusantara sejak masa prasejarah. Brandes bersama F.A. Sutjipto mengatakan tradisi batik diperkirakan berasal dari daerah seperti Toraja, Flores, Halmahera, dan Papua. Wilayah Nusantara itu merupakan wilayah yang belum dipengaruhi Hinduisme India, tapi memiliki tradisi kuno dalam membuat batik.

Bahkan, Brandes menyebut batik sebagai satu dari 10 hasil kebudayaan asli Indonesia. Selain batik, kebudayaan itu adalah kemampuan bercocok tanam, kemampuan berlayar dan mengenal arah angin, pertunjukan menyerupai wayang atau seni puppet, kemampuan bermusik dengan alat musik pukul yang ritmis (menyerupai gamelan), kerajinan logam, penggunaan alat ukur, alat tukar dari logam (seperti uang), sistem perbintangan, dan mengenal birokrasi atau susunan masyarakat teratur.

Tapi, motif batik yang dimaksud tak terbatas pada penggunaan di bahan kain. Karena ragam hias batik juga berkembang di arca, juga candi. Bahkan di arca Prajnaparamita terlihat pakaian dengan detail yang menampilkan pola sulur tumbuhan dan kembang-kembang dengan motif yang kompleks, seperti pola batik tradisional asal Jawa yang ditemukan sekarang. Ini memperlihatkan bahwa pola yang batik yang rumit itu telah ada sejak abad ke-13, bahkan lebih awal.

Kini budaya membatik masih dipelihara di Indonesia. Bahkan setiap daerah punya kekhasan pola hiasnya masing-masing. Dengan penetapan dari UNESCO, Indonesia pun memiliki kebanggaan sebagai pewaris kebudayaan batik yang diakui dunia.

Batik pun kini tidak lagi dianggap tradisional, dan bisa dipadu-padankan dengan fashion modern. Jadi, tak ada alasan untuk malu untuk berbatik. Selamat Hari Batik Nasional! (berbagai sumber)
14.57 | 0 komentar | Read More